Gusimu Harimaumu

Gusimu Harimaumu

Gusimu Harimaumu

BERABAD-ABAD lampau, kesehatan gigi dan gusi dianggap

masalah ringan. Buktinya, sepanjang Abad Pertengahan, kesehatan gigi ditangani tukang cukur. Setelah mencukur, memeriksa geraham. Tidak seperti saat ini. Baru pada 1700-an, ahli bedah Prancis, Pierre Fauchard, mendirikan bidang kedokteran gigi sebagai sains yang mandiri. Masalah kesehatan mulut penting. Jika tidak memerhatikan kesehatan gusi, akibatnya merugikan diri sendiri karena penyakit bisa bertambah buruk. Bulan lalu, sebuah riset tim peneliti gabungan dari University of Southampton dan King’s College London, Inggris, mengungkap pengidap alzheimer dengan periodontitis mengalami penurunan kognitif enam kali lipat lebih parah. Periodontitis yakni peradangan pembuluh darah di gusi, berkontribusi pada penurunan fungsi otak. Dalam laporannya yang dipublikasikan di jurnal Plos One itu, peneliti menyimpulkan, periodentitis bisa terkait dengan peningkatan demensia pada penyakit alzheimer. Tim mendapati temuan itu setelah memeriksa 59 penderita alzheimer selama enam bulan. Secara berkala mereka mengambil sampel darah untuk mengukur jejak peradangan. Mark Ide, dokter gigi dari King’s College London, mengatakan pasien dengan penyakit gusi memberi peluang masuknya bakteri ke aliran darah.

Sehingga, gusi menjadi gerbang injeksi mikroba berbahaya

. “Dalam 6 bulan, kondisi pasien menurun. Itu cukup menakutkan,” ujarnya. Terlepas dari studi itu, peneliti lain menyambut kebaruan studi itu. Doug Brown, direktur riset dan pengembangan organisasi Alzheimer Society, bahkan menyakini radang gusi menjadi salah kontributor penyebab alzheimer. “Perawatan gusi bisa menjadi opsi bagi penderita alzheimer,” katanya. “Jika benar, kehigienisan gigi dan gusi yang lebih baik menawarkan cara memperlambat proses demensia,” imbuhnya.

Berbagai penyakit

Menurut catatan, ada lebih dari 500 makalah ilmiah

yang membuktikan keterkaitan antara aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah jantung) dan penyakit gusi. Sejumlah penelitian mengungkap kematian akibat aterosklerosis banyak terjadi justru tidak pada orang-orang yang memiliki faktor risiko klasik, seperti kolesterol tinggi dan obesitas. Melainkan gusi busuk yang menyebabkan bakteri masuk. Studi di jurnal Lancet Oncology pada 2008, menunjukkan pria dengan penyakit gusi berisiko kematian lebih besar akibat kanker. Februari lalu, jurnal Annals of Oncology merilis riset yang menemukan laki-laki bukan perokok dengan penyakit periodontal justru 2,5 kali lipat lebih berisiko terkena kanker paru-paru dan tumor esophageal. Tahun lalu, riset peneliti University of Ceara Brasil di jurnal Mediators of Inflammation, mengungkapkan penyakit gusi berkorelasi dengan memburuknya penyakit sendi (arthritis).
Pada 2013, riset di Journal of Clinical Periodontology menyatakan orang dengan gusi yang buruk berpeluang besar terkena komplikasi diabetes.

 

Baca Juga :