Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin

Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin

Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin
Malam mengelam. Mendekap Batu Merah dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa sunyi. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi arang.
Kupandangi nona di hadapanku sekali lagi. Wajah hitam manisnya menyembul dari balik jendela kayu yang terbuka. Ia tampak lusuh. Jilbabnya kumal berdebu, compang -camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah keras itu tak juga berubah. Beku. Kaku. Sebilah tombak ada dalam genggamannya. Senjata itu dijulurkannya ke luar jendela, lalu berkali-kali dihunjamkannya ke tanah.
“Cinta, menangislah,”kataku dengan suara risau mendesau.
Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami. Lama sekali.”Beta seng bisa manangis,”suaranya bergetar, rahangnya mengeras.
Tetapi aku sangat ingin, bisikku. Tubuhku berguncang, bergetar. Berputar. Semakin lama semakin kencang. Meliuk-liuk..
Cinta! Cinta! Sungguh, aku melihat semua!
“Karudung ini bagus sekali, Bu. Pantas untuk beta pakai menghadap Allah di hari raya,”dari jendela kayu yang terbuka, kulihat nona tersenyum, menampakkan lesung pipitnya yang dalam.
Mamanya tertawa, menggantungkan sesisir pisang meja di sisi lemari kayu. “Ya, Nak. Itu rezeki dariNya. Bapakmu juga membelikan Ali dan Abid songkok baru.”
“Selesai salat, Jangan lekas pulang. Apalagi Bapak yang mengisi khutbah Ied,”suara Bapak bangga.
“Iya! Iya!”
“Wah, bagia ini enak sekali!”kata Ali dan Abid berbarengan. Kedua bocah itu mengerling nakal, lalu mencomot sepotong dua potong bagia, yang akan dimasukkan ke dalam toples.
Semua tertawa. Bahagia.
Keesokan harinya, 19 Januari 1999. Pagi-pagi sekali, kulihat Nona dan keluarganya, juga kaum muslimin yang lain berduyun duyun ke tanah lapang. Gema takbir terdengar di mana-mana. Dengan khusyu mereka melakukan salat Ied.lalu..
Entah dari mana, ratusan mahluk menyeramkan menyerang mereka yang tengah melaksanakan salat! Ada yang membawa tombak, kalewang, panah, parang, pisau juga pistol! Jeritan memilukan terdengar di mana-mana! Oto dan rumah di sekitar juga kena sasaran.
“Serang!”
“Bunuh!”
“Bakar!”
Hiruk pikuk. Semua berlari menyelamatkan diri. Banyak jamaah yang terinjak-injak. Ratapan, tangisan, jeritan semakin memerihkan pagi! Para lelaki berpeci, mencoba melawan tanpa senjata. Api berkobar. Orang-orang terkapar. Menggelepar. Seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Darah muncrat, mengalir, lalu membentuk beberapa kubangan. Pekat.
“Nak, tolooong!”
“Mamaaaa!”
DUG!
Perempuan itu tersungkur di pangkuan anaknya, dengan kepala remuk terkena lemparan batu.
“Aliii!”
“Abiid!”
“Aaaaaaaaaa!”
Tangan-tangan kotor mengayun-ayunkan bocah itu dan melemparnya ke dalam bangunan yang terbakar.
Nona terbelalak! Ternganga! Lenso putih di tangannya jatuh ke tanah.
“Bapaaaaak!”
CRESH!
Kepala lelaki separuh baya itu putus dari badannya! Menggelinding di tanah lapang yang basah meresap darah.
Nona terpaku. Tak bergerak. Hanya tubuhnya yang terdorong ke sana ke mari, didesak mereka yang panik menyelamatkan diri.
Nona masih kaku. Merasa tubuhnya tertanam dalam tanah, saat palu raksasa menghantamnya berkali-kali. Jiwanya bagai mengelupas. Tetapi tak ada setetes pun air mata. Aku hanya mendengar gema isakan dalam relung-relung batinnya. Kulihat dadanya naik turun. Detak jantungnya terdengar berkejaran. Ia berteriak sekuat tenaga! Menyebut nama Allah berkali-kali.
Aku melihat semua! Juga ketika tangan-tangan jahanam itu menyeretnya. Mendorong. Memeluk,melecehkannya bergantian. Mereka menarik-narik jilbabnya sambil tertawa tanpa henti. Lalu merobeknya kasar dengan belati! Nona mencoba meloloskan diri. Ia menggigit, mencakar, menendang, meludahi monster-monster itu! Hup, ia bahkan berhasil merampas sebuah tombak! Ya, meski tangannya berdarah terkena ujung tombak yang tajam. Lalu dengan sisa-sisa tenaga ia berlari. Jatuh bangun. Tersengal-sengal. Kadang tersandung tubuh-tubuh manusia yang terbongkar, di tengah jalan..
Siapa mahluk-mahluk buas dengan mata dan ikat kepala merah itu? Lalu yang memakai ikat kepala ungu? Mereka seakan baru saja menenggak berbotol-botol sopi dan sagure. Mereka membawa panah api! Di mana polisi? Di mana tentara? Aku mendesau risau.

Baca Juga :